-->

Swort Anthem Chapte 3: Ikatan Antara Pedang dan Hati

Update :
Posted by :


Setelah keluar dari toko milik Frei, aku pun segera pergi meninggalkan Kerajaan Magistra untuk berburu Troll.

Aku berlari dengan semangat menuju luar kerajaan dan tak lama kemudian gerbang terlihat dengan jelas di depan sana. Gerbang berwarna cokelat itu bagai penjaga sebuah kastil raksasa. 

Dilapisi dengan enam lapis logam yang padat. Dibuat menyamping di pinggirnya, kemudian dari atas lalu ke bawah di pinggir kanannya terdapat sebuah pintu kecil dengan ukuran dua belas kali dua puluh sentimeter sebagai pembuka informasi.

Setelah dekat dengan gerbang itu, aku pun mulai melambai-lambaikan tangan sembari mengangkat brosur misi itu tinggi-tinggi.

Penjaga gerbang itu sudah kenal betul dengan diriku, lalu mereka pun membukakan gerbangnya untukku. Suara derekan, deruman serta decitan yang bergeser sungguh bising seakan-akan tanda perang akan dimulai. Tembok pembatas yang membentang dan mengitari kerajaan ini sungguh luas.

Setelah aku berhasil keluar, aku pun tersenyum kecil ke arah mereka.

"Yo, setelah aku berhasil menyelesaikan misi ini akan kutraktir kalian daging bakar," ucapku dengan senang.

"Whoaaa... kuserahkan padamu Instruktur Kuro."


Para penjaga serentak heboh ketika mendengar perkataanku, mereka memberiku semangat lalu melambaikan tangannya sebagai tanda hati-hati.


Gerbang pintu terbuka dan yang kulihat selalu sama, hutan yang sungguh luas. Dedaunan berwarna hijau sehat, berjajar dengan rapi dan ada beberapa dedaunan yang berguguran dikarenakan sebentar lagi musim gugur.

Di depan sana ada sebuah jalan setapak yang lurus yang bisa kulihat hanya dengan satu kedipan saja. Sinar matahari yang tidak terlalu terik menjadikan hari ini sebagai hari yang cerah, pas sekali digunakan untuk berburu sesuatu.

Ketika aku berjalan dengan santai, sebuah suara yang tak asing dan terkadang membuatku kesal tiba-tiba saja muncul.

"Ouu!! Kuro, bukankah kau sekarang memiliki jam mengajar di Akademi?" tanyanya tiba-tiba.

Sosoknya yang sering muncul tiba-tiba ini selalu membuatku kesat dan kaget di saat yang sama. Ia adalah seorang perempuan dengan tampang yang imut dan tubuhnya yang mungil itu kini sedang berjalan di sampingku. 

Ia selalu saja mengatakan hal yang tidak ingin kudengar. Bahkan dengan suaranya yang kecil dan seperti boneka rusak itu, terkadang membuatku tersedak karena saking lucunya.

"Ouuu!!! Kurooooo?! Apakah kau tidak mendengarku?" ucapnya dengan wajah polos tanpa ekspresi seakan-akan mayat hidup.

"Aku mendengarmu kok, jadi bisa kau hentikan itu, Fear?"

"Baiklah asalkan—"

"Baiklah... baiklah, seperti ini, 'kan?"

Aku bisa menebaknya dengan mudah, ia pasti ingin dielus pada kepalanya seperti kucing kecil. Dengan tubuhnya yang mungil dan matanya yang cukup besar. Entah mengapa aku selalu heran apakah Fear seorang gadis kecil atau seorang wanita dewasa?

Rambutnya berwarna merah gelap dan matanya yang sama dengan warna rambutnya. Ia serasa memiliki aura kedewasaan di dalam tubuhnya namun perilakunya yang seperti anak kecil terkadang membuatku berpikir bahwa ia itu memang seorang gadis kecil.

"Hmm... hmm, bagaimana apakah sudah cukup?"

"Belum, aku masih ingin dielus olehmu."

Wajahnya sedikit merona saking enaknya, pipinya mengembang seperti roti yang baru matang dari panggangan. Dan mulutnya yang kecil, mengerat karena tidak tahan. Kuputuskan bahwa dia adalah gadis kecil terlucu, karena wajah polosnya, matanya yang sedikit besar dengan pupil yang indah.

Bibir mungilnya berwarna merah muda. Hidungnya yang pas, lengan kecil bahkan dadanya yang rata itu semua menjadi salah satu kriteria yang cukup jelas untukku. Satu lagi kaki mungilnya juga, dengan tingginya yang hanya sebahuku.

Sudah pasti bahwa perbedaan di antara kita terlihat dengan sangat jelas .

"Oh, ya. Kenapa kau keluar, Fear?"

"Aku hanya bosan selalu berada di dalam pedangmu saja."

Ia berucap, tapi seperti tidak protes. Wajahnya hanya datar, tapi saat kuelus seperti tadi, ekspresinya langsung berubah 180 derajat.

"Hooo ... jadi seperti itu, maaf ya. Kau tahu, kan, kalau kau keluar di dalam kerajaan aku bisa-bisa dikira sebagai orang yang tidak-tidak. Mungkin kasus terburuknya bahkan sebagai penjahat kelamin," ucapku sambil menggaruk belakang kepala.

"Hmm... aku sudah tahu, tapi tetap saja. Kuro jahat"

"Ehhh?!"

"Apakah tidak terpikirkan menjadi seorang Adik dan Kakak?"

"Hmm... boleh juga, tapi mereka sudah tahu jika aku sebenarnya tidak memiliki seorang Adik. Kau paham, 'kan?" 

"Kuro, bisa menjelaskannya bahwa aku adalah Adiknya yang telah lama hilang"

"Fear... alasan itu bahkan lebih mencurigakan."

Kami berdua saling berbicara dengan tenang. Fear adalah roh yang terkontrak denganku, lebih tepatnya ialah yang ingin bersamaku. Aku tidak tahu alasannya, tapi karena itu aku memiliki sebuah kekuatan yang luar biasa.

Dan juga pedangku yang berwarna putih ini akibat ulah dirinya. Energi yang tersalurkan dari dirinya mengalir ke dalam pedang yang kubuat sendiri, lama kemudian warna yang seharusnya bening natural menjadi putih yang kelam.

Fear, lebih tepatnya adalah Fear Relestya. Seorang roh kontraktor yang telah lama tersegel di tengah-tengah Danau Myst. Danau yang disebut dengan danau harapan. Danau itu terdapat di dalam gua yang dalam.

Kerajaan menyebutnya sebagai gua kehancuran karena setiap kali melakukan ekspedisi ke dalam gua tersebut, pasti akan memakan korban. Entah mengapa aku masih ingat pertama kali bertemu dengan Fear di dalam danau itu.

***


Beberapa tahun yang lalu....



Dengan pantulan Stalaktit dan Stalakmit yang memantulkan cahaya yang indah. Mengitari setiap sudut danau secara menyeluruh. Aku yang sedang bertarung mati-matian di Hutan Horodius tiba-tiba saja terjatuh ke dalam sebuah jurang.


Aku tidak tahu mengapa itu bisa terjadi, tapi saat aku terbangun aku sudah berada di pinggir danau tersebut. Dan sebuah Stalakmit yang menonjol dari dalam danau itu memunculkan seorang gadis kecil tanpa busana.

Ia terantai dengan sangat erat, kakinya membeku oleh kristal yang mengekangnya. Kedua tangannya mengambai ke atas bagaikan sebuah penghakiman. Kulitnya putih, matanya merah, rambutnya merah dan ia seorang perempuan.

Dengan luka yang membekas di sekujur tubuhku, aku hanya dapat menyeret tubuh tak bertenaga ini agar lebih mendekat ke arahnya. Matanya yang sedikit lebih besar perlahan membuka dengan pasti. Kemudian ia melihat diriku dengan mata kecilnya, lalu seketika itu ia pun menangis.

Padahal ia baru pertama kali bertemu denganku. Mungkin karena luka yang kualami dapat membuatku mati karena itulah dia menangis?

Namun, itu adalah kesalahan besar, bahwa mengira gadis kecil seperti itu menangisi lelaki yang baru bertemu dengannya satu kali. Bahkan ia mengetahui namaku.


"Kuro... Kuro... Kuroooo"


"H-huh?! Kau mengenalku?"

"Kuro ... aku sudah lama menunggumu"

Menungguku?! Apa maksudmu?

"Kuroo... Kuroo."

Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Yang ia lakukan hanya menyebut namaku dan menangis tanpa alasan. Aku tidak tahu mengapa, yang pasti ada yang aneh tentang hal ini.

"Ahksss!!!"

Tiba-tiba saja jantungku berdetak dengan keras, darah keluar dari dalam mulutku. Membasahi pakaianku yang saat itu sudah dalam keadaan tidak utuh. Warnanya yang merah dan amis itu hampir saja membuyarkan pandanganku.

"Kurooooo!!! Huaaa!!!"

Tangisannya semakin keras seiring menyebut namaku. Aku tidak tahu apakah aku akan mati di sini karena kehabisan darah dan mendengar sebuah teriakan kecil dari seorang gadis yang terikat oleh rantai.

Ia tampaknya sedang menggumamkan sesuatu yang tak bisa aku pahami dan kudengar secara jelas. Hahaha... mungkinkah aku akan mati di sini?

Tiba-tiba saja semua yang membelenggunya hancur berkeping-keping. Ia menghampiriku dengan perlahan. Ia mengambang di atas permukaan air danau yang dingin dengan tenang. Aku yang melihat semua itu hanya bisa terpaku karena staminaku telah terkuras habis.

Kedua mataku mulai letih untuk dapat terus terangkat, kegelapan perlahan menghampiriku. Sebuah cahaya harapan muncul dan kehangatan mulai menyeru di dalam tubuhku dengan cepat dan membuatku tersadar.

Gadis kecil itu sedang memeluk diriku dengan tenang. Namun, sesaat kulihat ia bukanlah seorang gadis kecil melainkan seorang perempuan dewasa yang hampir sejajar denganku.

***

"Oiii... kuro, apa yang kau pikirkan?"

Bibir mungil milik Fear bergerak dengan cepat dan itu membuatku gemas.

"Ahh... hanya kenangan masa lalu."

Setelah itu aku kembali mengelus kepala Fear dengan tangan kananku. Ia kembali meresapi sensasi dari elusanku secara maksimal, sambil menutup kedua matanya. Kusentil jidatnya dengan satu sentakan.

"Ouch!!—Kuro!"

Hahaha. Hmm.... jika kupikir-pikir lagi, hari berlalu begitu cepat, dan aku sama sekali tidak sadar kalau pertemuanku dengan Fear sedikit aneh.

0 Comments