-->

Sword Anthem Chapter 1: Misi Pertama

Update :
Posted by :

Setelah pertarungan tersebut, aku hanya dapat keluar dengan senyuman tanpa arti. Karena sia-sia saja aku mengikutinya.

Untuk apa mengikutinya lagi dan lagi?

Selama ini aku bertarung demi membebaskanku dari mimpi buruk masa lalu dan juga kekangan tak berbentuk. Menghancurkannya hingga tak tersisa sama sekali.

Aku tahu bahwa diriku tidak seperti mereka, seorang bangsawan yang kaya dan gila akan harta. Seorang kesatria yang tingkatannya berbeda jauh dengan diriku. Aku hanya seorang anak yatim piatu yang ingin berpetualang.

Awal aku melihat pertarungan itu ketika aku berusia lima tahun. Pertarungan di atas arena itu sungguh membuat hatiku berdebar-debar. Walaupun hanya sekilas kilatan pedang yang saling berbenturan, tetapi hal itulah yang berhasil menarik minatku.

Setelah itu aku membulatkan tekadku untuk mengikuti Festival Kesatria Sihir dengan harapan bisa menang dan terpilih sebagai salah satu dari Kesatria Legiun.

Namun, tampaknya semua yang aku lakukan terlihat sia-sia bagi mereka. Aku yang tak memiliki bakat sejak lahir mungkin terlihat konyo dan aneh ketika mencoba menjadi sesuatu yang luar biasa.

Sayangnya mimpi tidak selalu berbanding setara dengan hasil yang aku dapatkan. Selain mencoba menjadi sesuatu yang aku inginkan, suatu hari ada seorang lelaki yang datang kepadaku.

Mereka berpikir bahwa aku tidak pantas untuk menjadi anak dari seorang bangsawan, meskipun seperti itu Ayahku tetap mengulurkan tangannya seperti memberiku pesan tersirat "Jangan Menyerah".

Tangis yang tidak pernah kuharapkan muncul, tumpah seketika. Hanya karena ia mau mengulurkan tangannya untukku—seorang anak yatim piatu. Minggu demi minggu telah kulewati bersamanya, pria yang saat itu menjadi Ayah angkatku, ia mengajarkanku bagaimana cara menggunakan sebuah pedang dengan benar dan baik.

Awalnya aku senang, tetapi dari balik senyumannya itu tersirat sebuah teka-teki yang tidak pernah dapat kupecahkan. Setelah umurku beranjak menjadi delapan tahun, aku mencoba mengikuti Festival Kesatria Sihir lagi untuk membuktikan bahwa aku bisa melakukannya.

Namun, entah mengapa setiap kali aku mengikuti festival itu aku selalu kalah. Entah pedangku yang mudah patah, sepatuku yang licin bahkan hingga lawan yang tidak terduga kuatnya.
Semua ini membuatku merasa aneh karena kejadian itu saja terjadi bertahun-tahun, hingga suatu hari aku tidak sengaja mendengar sebuah pembicaraan yang membuat hatiku hancur.

Setelah mendengar itu aku pergi meninggalkan rumah tanpa meninggalkan jejak, lalu pergi ke suatu tempat. Delapan tahun sejak aku pergi dari rumah itu dan kerajaan ini, akhirnya aku pun kembali.

Kini aku kembali dengan nama baruku sebagai Kuro.

"Ahhh... sepertinya aku memang tidak terlalu cocok jika harus menjadi bahan perhatian."
Setelah itu aku berjalan keluar dari arena dengan tangan yang menyodok saku celana. Berharap bahwa sisa uang bekas misi yang lalu masih ada. Namun, kenyataannya memanglah tidak seindah yang aku kira, karena saat ini aku hanya memiliki dua keping tembaga.

Dengan perut yang sedikit lapar ini aku akhirnya pergi ke papan misi yang berada di dekat toko senjata. Akhirnya aku pun tiba di sana dengan mata yang melirik ke sana-kemari.

"Hmm... mari kita lihat misi apa yang dapat kugunakan untuk mengisi perut yang sudah protes ini."

Dekat sebuah misi penumpasan para pencuri, aku menemukan satu yang cocok yaitu mengalahkan seekor Troll.

"Sepertinya yang ini cocok, coba kita lihat... uaaaa!! 50 keping perak?!" seruku kaget. "Gak salah nih?"

Tak kuasa melihat hadiahnya, aku pun memutuskan untuk mengambil misi ini. Namun,  pertama-tama aku harus mencari informasi yang lebih lengkap.

"Frei Grylen... sepertinya nama ini tidak asing."
                            
Di bawah poster misi itu, ada sebuah nama yang tertera. Benar-benar nama seseorang yang tidak asing.

"Penempa Senjata! Pantas saja aku tidak asing Rylen itu nama belakangnya...."

Setelah melihat keterangan itu, aku pun langsung bergegas segera pergi ke rumah Frei. Tidak lama setelah itu aku sampai di tokonya. Rumah yang sederhana dengan pintu bercat cokelat tua berkaca satu itu benar-benar membuatku teringat saat pertama kali aku berkunjung ke toko ini.       
                            
Aku pun melangkah mendekati pintu depan, lalu membukanya dengan pelan. Sebuah suara lonceng mungil menyambutku dengan senang hati.
                      
"Selamat datang di toko senjata Rylen... hmm? Ah! Rupanya si Kesatria Gagal."
                     
Ketika ia melihatku, bukannya memberikan sambutan yang baik, tetapi ia malah menyambutku dengan perkataan yang mengusikku.
                         
"Ahhh... bisakah kau tidak menggunakan nama itu? Frei."
                           
Karena ia yang memulai, tidak salahkan membalasnya dengan sedikit nada yang nakal.
               
"Ehhh?!! Dari mana kau mengetahuinya, seingatku nama itu belum pernah aku sebutkan"
                
"Hehehe..."                      
                            
Kini wajahnya sedikit memerah dan ekspresi paniknya itu membuatku tertawa. Namun, aku tidak hanya diam saja, dan segera beranjak menuju meja di depannya. Setelah itu mengeluarkan poster berisikan keterangan misi yang akan kulakukan.
                  
"Hmm? Lalu apa yang ingin kau cari tentang ini, Kuro?"
             
"Tentunya semua yang kau tahu."
                          
Tampaknya saat ini ia sedang bekerja membersihkan pedang dan beberapa perisai, terpajang di salah satu sudut tembok yang sedikit rapuh. Aku pun mendekatinya secara perlahan.
                          
Rambut pendek abunya tampak lembut saat kupandang dari dekat. Di sudut kanan rambutnya terdapat asesori berbentuk bulan sabit. Menggunakan bando berwarna cokelat dan pakaiannya berupa seragam dengan bawahan hitam lengkap bersama sebuah celemek cokelat tua.
                            
Aku bisa melihat pundaknya dengan jelas—kulitnya yang putih benar-benar tak berubah sejak dulu. Mata dan pupilnya pun berwarna putih-keabuan. Mulutnya tipis dan merah muda. Manis seperti stroberi yang masih segar.
                            
Ia adalah perempuan pertama yang kutemui saat tiba di kerajaan ini. Sebelumnya aku menggunakan pedang kayu saat bertarung dengan paman besar itu. Namun, kunjunganku kali ini selain karena pedang putihku sedikit retak, aku juga memerlukan beberapa hal semisalnya konsultasi mengenai pedang putihku contohnya. Setelah itu  kuputuskan untuk memperbaikinya. Sehingga sampailah aku di sini dan bertemu dengan Frei.              
                            
"Ayolah... jangan panggil aku seperti itu, Kuro"                  
"Hmm?"       
                            
"Kau tahu kan kita sudah saling kenal sejak lama dan kau masih belum berubah, panggil aku Frei seperti dulu kau memanggilku
                           
"Frei apa Rylen?" godaku.
                        
"Hmmp... kalau tidak mau, aku tidak akan memberitahukannya padamu."
                           
Seketika kedua pipinya mengembang seperti balon yang selalu dipegang oleh anak-anak.
                          
"Baiklah-baiklah... Frei?"
                                     
"Hehehe."
"Tawa khasmu itu selalu membuatku bertanya-tanya, apa kau ini seorang penguntit?" tanyaku tak bersalah.
                   
"Kau ini tidak sopan, ya. Biarlah... kau menginginkan informasi tentang monster ini, 'kan?"
                            
Aku pun mengangguk.
                
"Kalau begitu...."                        
Frei langsung menjelaskan semua informasi yang ia tahu tentang misi ini. Penjelasannya mudah kumengerti walaupun sesekali ia selalu mengejekku beberapa kali. Mungkin masih kesal karena aku sebut penguntit, ya?
                        
"Hmm... jadi aku hanya harus membawa kalung cakarnya sebagai bukti, ya?"
        
Ia pun langsung mengangguk sambil memberikanku sebuah tanda V di tangan kanannya.
     
"Kalau begitu aku pergi dulu."
                       
Setelah mendengarkan semua penjelasannya dan memastikannya untuk kesekian kalinya. Akhirnya aku mengerti lalu aku pun berjalan ke arah pintu, tampaknya sang lonceng mungil akan mengucapkan perpisahannya lagi untukku.
       
"Ohh... satu lagi"
                
"Hmm? Apa ada yang masih tidak kau mengerti?"

"Ahh... tidak jadi, kalau begitu aku pergi dulu"

"Lagi-lagi kau seperti itu"
           
"Tangkap ini...."
                         
Aku pun melemparkan sesuatu ke arahnya. Sebuah benda yang mungkin saja ia senangi. Benda itu adalah sepasang anting kristal berwarna biru.

"Eeehhh?!!! Apa maksudnya ini, Kuro?!"
                      
"Itu kubuat sendiri beberapa tahun yang lalu, aku tidak tahu bagaimana seleramu. Anggaplah rasa terima kasihku karena telah membantuku selama ini," ucapku dengan seringai tipis.
    
Setelah itu aku pergi keluar, begitu langit luas terpampang di sana. Aku pun menghela napas beberapa saat sebelum pergi ke tempat tujuanku.
                                              
"Saatnya menjalankan misi pertamaku."

0 Comments