-->

Sword Anthem Chapter 0: Prolog

Update :
Posted by :



Sorak para penonton mulai menggema di sekeliling arena pertarungan dengan sempurna. Pertarungan antar kesatria di depan sana dapat memikat perhatian penonton hingga jumlah yang dapat dikatakan luar biasa.

Suara aduan pedang yang saling berbenturan itu sangat cepat bagaikan kilat putih. Petarung kali ini adalah seorang perempuan berambut putih panjang dengan matanya yang biru. Ia menggenggam sebuah Rappier yang cukup runcing.

Dan di sudut yang berlawanan adalah seorang lelaki berambut hitam yang membawa sebuah pedang di tangan kanan dan perisai kokoh di tangan kirinya. Namun, dengan zirah yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, membuat pergerakannya menjadi sangat terbatas.

Perempuan berambut putih itu menari-nari di atas arena dengan anggun. Melesatkan setiap serangan dan hantaman dengan cepat. Kesatria berzirah lengkap itu pun hanya bisa mundur dengan pasrah karena perlengkapannya membuat tubuhnya berat seakan ditarik gravitasi bumi.

Sesekali kesatria itu menghunuskan pedangnya, tetapi tak ada satu pun serangan yang berhasil mengenainya. Perempuan berambut putih itu melompat seperti kelinci lincah, memainkan pedang Rappiernya dengan gesit, lalu menerjangnya bagai elang pemburu.

Lagi-lagi kesatria berzirah lengkap terdorong mundur secara paksa. Napasnya mulai memberat dan pergerakannya pun tampak melambat. Perempuan berambut putih itu kini menghunuskan senjatanya tepat ke lehernya.

Pertandingan ini dilakukan oleh dua orang tidak lebih dan harus menyandang pedang sebagai Kesatria ataupun Kesatria Sihir.

Setelah pertandingan ini masih banyak kesatria yang akan berpartisipasi dalam festival ini. Festival Kesatria Sihir, festival yang selalu diadakan untuk menentukan calon Kesatria Legiun selanjutnya.

Ya. itulah semua yang kudengar dari orang-orang di luar sana. Meskipun saat ini aku berada di lorong arena, suara mereka—baik itu sorakan, teriakan, cacian, bahkan pujian bisa kudengar dari sini.

Tidak lama setelah itu ada seseorang yang datang menghampiriku. Ia terlihat membawa sebuah papan kecil yang berisikan beberapa kertas dengan banyak tulisan.

“Apakah kau Kuro?”
“Seperti namanya, itulah namaku”
“Sekarang adalah giliranmu. Bersiaplah”
“Hmm... sepertinya kali ini giliranku, huh?”

Kemudian ia pun pergi keluar lorong meninggalkanku. 

Apakah kejadian itu akan terulang kembali ataukah aku bisa mengubah masa lalu pahitku dengan kedua tangan ini?

Entah. Namun, aku yakin ini akan menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka bayangkan. Berharap semua dapat berubah dengan harapan yang abu, aku pun menghela napas.

“Mana mungkin masa lalu bisa kuubah semudah itu,”gumamku.

Aku pun mulai melangkah pelan. Berjalan ke arah sumber cahaya dan suara di depan sana. Inilah saatnya, apakah aku bisa melakukannya atau tidak. Aku ingin mengujinya di sini.

Setelah tiba di sana, semua suara yang sebelumnya aku dengar semakin menjadi jelas. Lebih keras, penuh antusias, harapan, dan juga tawa kesenangan—menyanjung ataupun menyinggung.

Persis seperti masa lalu yang menghantuiku. Tempat ini sama sekali tidak berubah sedikit pun. Baik itu tempat, atmosfer, lingkungan, dan orang-orang yang dulu pernah menghinaku. Mungkin mereka saat ini sedang melihatku dari bangku penonton di sekeliling arena, entah, tapi aku tidak terlalu peduli dengan hal itu.

Namun, pada akhirnya aku tetap menginjakkan kakiku di atas arena ini dengan sebilah pedang kayu yang usang

Begitu aku mendongak melihat langit, sorak tawa menghujaniku seakan mereka telah mengenalku dengan sangat baik. Yahh... masa lalu memang tidak bisa diubah begitu saja. Kesanku dalam benak mereka telah menempel dengan sangat jelas.

“HAHAHAHA!! Lihat, dia mengikuti pertandingan ini lagi”

“Woi!! Sebaiknya kau mundur atau tidak kau akan ditendang keluar arena, ahahaha!!”

“HAHAHAHA!! KESATRIA GAGAL!!! Ingat julukanmu itu! Sudah pasti kau akan langsung kalah.”

Sayangnya semua cacian serta tawa hina yang mereka lontarkan kepadaku lebih mirip seperti suara angin di siang hari. Tidak terlalu aku pedulikan, karena saat ini aku bukanlah orang yang dulu mereka anggap sebagai sampah.

Lihat saja nanti, akan kubuktikan jika perkataan kalian salah.

Lawanku kali ini adalah seorang lelaki besar. Perutnya sedikit buncit dengan pakaian sederhana, tetapi ia terlihat garang dengan kampak dan perisainya. Ketika ia berusaha berbicara, aku bisa mendengar suaranya yang sedikit ngelantur... apakah ia sedang mabuk?

“Anu... bisakah kau bermain pelan denganku?”

“Hahaha... ada apa pria kecil? Apakah kau takut dengan paman ini? Jangan seperti itu, paman ini baik kok—“

“Benarkah?” potongku cepat dengan mata berbinar.

“Lihat dia sampai memohon-mohon seperti itu!”

“Dasar tidak tahu malu! Ahahaha!”

“Pergi dari sini! Kau tidak pantas berada di arena suci ini!”

“Benar-benar contoh yang buruk....”

Semua itu suara-suara aneh itu terus bermunculan satu-persatu. Namun, aku sama sekali tidak menganggapnya serius. Masa bodo dengan perkataan mereka, yang terpenting saat ini adalah apa yang berada di hadapanku.

“Sepertinya kau dibenci sekali oleh mereka. Ghahahaha!”

“Mungkin mereka iri karena aku tampan,” tukasku dengan senyum remeh.

Pria besar di depanku ini langsung terdiam sesaat, lalu kembali tertawa setelah melihatku untuk kedua kalinya.

“Kau... tampan? Jangan bermimpi”

“Itu, kan, hanya pendapatku saja. Mengerti?”

“Aha! Lihat saja nanti, pria kecil—“

Tiba-tiba saja bunyi gong tanda dimulainya pertarungan terdengar. Sebelum menyelesaikan perkataannya, ia langsung menerjangku seperti seekor monster yang sedang kelaparan.

Aku hanya bisa tersenyum geli, tapi sayangnya pertandingan ini harus berakhir sekarang juga.

“Hmmp... semoga perjalananmu menyenangkan,” bisikku halus.

Keseimbangan lelaki besar itu langsung goyah hingga sebuah sentakkan muncul dan membuatnya terbang melayang keluar arena dan seketika itu juga menghancurkan dinding pembatas yang ada di sana.

Para penonton terkejut dengan kejadian itu, mulut mereka menganga seperti pintu terbuka. Tidak ada suara-suara bising lagi, yang ada hanyalah keheningan yang entah sampai kapan akan bertahan.

Lalu beberapa saat setelah itu, semuanya kembali seperti semula. Namun, berbeda dengan sebelumnya, kali ini suara itu merupakan teriakan antusias dari para penonton. Begitu aku sadar suara tepuk tangan dan siulan bersatu menggemakan arena dengan sangat hebat.

Namun, walaupun aku mendapat sorakan kemenangan, wajahku tertunduk ke bawah, mulut terkunci tanpa suara. Suara bisik-bisik mulai sedikit terdengar dari arah penonton, mungkin mereka penasaran dengan ekspresiku saat ini.
Setelah itu aku pun melangkah pergi keluar arena sambil berkata dengan lantang.

“Aku menyerah!!”

Setelah kemeriahan itu berlangsung, kini berkat pernyataanku yang tiba-tiba itu semuanya kembali hening seperti dihantam oleh ketidakpercayaan. Lalu aku pun menghela napas dan memikirkan kembali langkah selanjutnya yang perlu aku lakukan.

Sebelum itu ada satu hal yang perlu aku lakukan saat ini, yaitu mencari pekerjaan.

“Tampaknya aku memang tidak cocok menjadi salah satu anggota Kesatria Legiun,” gumamku lalu membuang napas.

0 Comments